June 18, 2026

Info Konsumen – Sering terbangun pada malam hari untuk buang air kecil kerap dianggap sebagai bagian normal dari proses penuaan. Namun, kondisi tersebut dapat menjadi tanda Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) atau pembesaran prostat jinak, gangguan yang umum dialami pria seiring bertambahnya usia.

BPH diketahui dialami sekitar 50 persen pria berusia di atas 50 tahun dan prevalensinya meningkat hingga 80–90 persen pada kelompok usia 80 tahun ke atas. Meski demikian, banyak pria tidak menyadari gejalanya karena berkembang secara perlahan dan sering dianggap sebagai konsekuensi alami dari penuaan.

Menurut Elita Wibisono, Dokter Spesialis Urologi yang berpraktik di Primaya Hospital Kelapa Gading, pembesaran prostat merupakan salah satu masalah kesehatan pria yang paling sering ditemukan, tetapi masih kerap diabaikan.

“Banyak pasien menganggap pancaran urine yang melemah atau sering terbangun malam hari untuk buang air kecil sebagai hal yang wajar karena faktor usia. Akibatnya, mereka baru datang ke dokter ketika sudah mengalami komplikasi, bahkan hingga tidak bisa buang air kecil sama sekali,” ujarnya.

Pembesaran prostat terjadi ketika kelenjar prostat membesar dan menekan saluran kemih. Kondisi ini dapat menimbulkan berbagai keluhan, mulai dari pancaran urine yang melemah, rasa tidak tuntas saat berkemih, hingga urine yang menetes setelah selesai buang air kecil.

Salah satu gejala yang paling sering muncul adalah nokturia, yakni kondisi ketika seseorang harus terbangun berulang kali pada malam hari untuk berkemih. Selain mengganggu kenyamanan, nokturia juga dapat menurunkan kualitas tidur sehingga menyebabkan tubuh mudah lelah, konsentrasi menurun, dan produktivitas sehari-hari terganggu.

Tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, gangguan prostat juga dapat memengaruhi kualitas hidup secara keseluruhan. Gangguan tidur kronis dan keluhan berkemih yang terus berlangsung dapat memicu rasa frustrasi, menurunkan kepercayaan diri, bahkan memengaruhi hubungan dengan pasangan.
Apabila tidak ditangani, pembesaran prostat berisiko menimbulkan komplikasi seperti infeksi saluran kemih, batu kandung kemih, hingga gangguan fungsi ginjal.

Meski faktor usia tidak dapat dicegah, perkembangan penyakit dapat diperlambat melalui pola hidup sehat. Dokter menyarankan pria untuk tetap aktif bergerak, menjaga berat badan ideal, memperbanyak konsumsi sayuran hijau dan tomat yang kaya likopen, serta membatasi konsumsi daging merah olahan.

Saat ini, penanganan pembesaran prostat juga semakin berkembang melalui prosedur minimal invasif seperti Transurethral Resection of the Prostate (TURP) dan Rezum yang dilakukan tanpa sayatan pada perut dan menawarkan masa pemulihan lebih cepat.

Masyarakat diimbau segera berkonsultasi dengan dokter apabila mengalami perubahan pada pancaran urine, merasa tidak tuntas saat buang air kecil, terbangun lebih dari dua kali setiap malam untuk berkemih, atau menemukan adanya nyeri maupun darah saat buang air kecil.

Deteksi dini dan penanganan yang tepat dinilai penting untuk mencegah komplikasi serta menjaga kualitas hidup pria tetap optimal di usia lanjut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *