Info Konsumen – Teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) mulai diterapkan di layanan kesehatan tingkat dasar di Indonesia. Inovasi ini memungkinkan bidan di puskesmas memanfaatkan teknologi Optical Character Recognition (OCR) dan AI prediktif untuk membantu memantau kondisi kesehatan ibu hamil secara lebih cepat dan akurat.
Selama ini, bidan mencatat hasil pemeriksaan ibu hamil secara manual di Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). Data tersebut kemudian harus dimasukkan kembali ke dalam sistem digital, proses yang cukup memakan waktu di tengah padatnya pelayanan di puskesmas.
Melalui teknologi OCR, proses tersebut kini dapat dilakukan lebih praktis. Bidan cukup memotret halaman Buku KIA menggunakan ponsel, lalu sistem akan membaca tulisan tangan yang ada pada foto dan mengubahnya secara otomatis menjadi data digital.
Dengan cara ini, data kesehatan ibu hamil dapat langsung tersimpan dalam sistem dan digunakan untuk analisis lebih lanjut.
Setelah data terkumpul, sistem AI prediktif akan menganalisis pola dari informasi kesehatan yang tersedia, seperti tekanan darah, riwayat pemeriksaan, serta indikator medis lainnya. Dari analisis tersebut, sistem dapat memberikan indikasi potensi risiko pada kehamilan.
Hasil analisis ini bukan diagnosis medis, melainkan alat bantu bagi tenaga kesehatan untuk mengidentifikasi pasien yang mungkin membutuhkan perhatian lebih. Dengan begitu, bidan dapat mempertimbangkan langkah lanjutan seperti pemeriksaan tambahan, kunjungan lebih awal, atau rujukan ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap.
Teknologi ini dinilai sangat membantu, terutama ketika satu bidan harus melayani puluhan pasien dalam satu hari. Sistem dapat membantu menandai pasien dengan potensi risiko sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat.
Uji coba teknologi ini mulai dilakukan pada 6, 10, dan 11 Maret 2026 melalui pelatihan kepada 40 bidan desa dari empat puskesmas di dua provinsi.
Di Nusa Tenggara Barat, pelatihan melibatkan bidan dari Puskesmas Montong Betok dan Puskesmas Narmada di Pulau Lombok. Sementara di Jawa Barat, kegiatan serupa dilakukan bersama bidan dari Puskesmas Karangpawitan dan Puskesmas Cibatu di Kabupaten Garut.
Dalam pelatihan tersebut, para bidan tidak hanya belajar menggunakan aplikasi, tetapi juga dilatih untuk memverifikasi hasil pembacaan OCR guna memastikan data yang masuk ke sistem tetap akurat. Ketelitian ini penting karena kualitas analisis AI sangat bergantung pada keakuratan data yang tersedia.
Inovasi ini merupakan bagian dari program KONEKSI AI in Healthcare, sebuah kolaborasi lintas institusi yang dipimpin oleh Summit Institute for Development sejak 2024.
Program tersebut mendapat dukungan pendanaan dari Pemerintah Australia melalui skema Flourish Funding dalam Dana Hibah KONEKSI, setelah melalui proses seleksi yang menilai inovasi teknologi, relevansi terhadap kebijakan kesehatan Indonesia, serta potensi dampaknya bagi masyarakat.
Uji coba di empat puskesmas ini menjadi langkah awal untuk melihat efektivitas penggunaan teknologi dalam mendukung pelayanan kesehatan ibu dan anak. Hasil dari implementasi awal ini akan menjadi bahan evaluasi untuk pengembangan dan kemungkinan penerapan yang lebih luas di masa depan.
Dengan dukungan teknologi digital dan kecerdasan buatan, pelayanan kesehatan di puskesmas diharapkan dapat menjadi lebih efisien sekaligus meningkatkan kualitas pemantauan kesehatan ibu hamil di Indonesia.
